Kamis, 31 Maret 2011

TUGAS KOMP. LEMBAGA KEUANGAN PERBANKAN "KLIRING"

Nama     : Faddly Akbar El Muhammady
Nmp       : 10208468
Kelas     : 3EA10
SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang Masalah

Saat    ini  di   Indonesia    terdapat    105   penyelenggara      kliring   lokal,  baik   yang dilaksanakan      oleh  Bank   Indonesia    maupun     pihak   lain  yang   ditunjuk   oleh  Bank Indonesia. Transaksi   yang    dapat   diproses   melalui   sistem   kliring   meliputi   transfer   debet  dan transfer kredit yang disertai dengan pertukaran fisik warkat, baik warkat debet (cek, bilyet giro, nota debet dan  lain-lain) maupun  warkat kredit. Khusus  untuk   transfer kredit,    nilai  transaksi  yang    dapat   diproses    melalui   kliring  dibatasi   di  bawah Rp100.000.000,00   sedangkan   untuk   nilai   transaksi     Rp100.000.000,00   ke   atas   harus dilakukan     melalui   Sistem  Bank   Indonesia   Real   Time   Gross   Settlement   (Sistem   BI- RTGS).
        Dalam   melaksanakan   kegiatan   kliring   tersebut,   digunakan   4      (empat)   jenis   system yang berbeda yaitu :
a.  Sistem Kliring Elektronik atau dikenal dengan SKEJ, digunakan di Jakarta;
b.  Sistem Kliring Otomasi, digunakan di Surabaya, Medan dan Bandung;
c.  Sistem  Semi   Otomasi   Kliring   Lokal   atau  dikenal   dengan  SOKL,   digunakan   di   33 wilayah kliring yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan 37 wilayah kliring lainnya yang diselenggarakan oleh pihak lain yang ditunjuk oleh Bank Indonesia.
d.  Sistem Manual (di 31 penyelenggara Non-BI).  
Seiring    dengan    perkembangan        teknologi   informasi,    kebutuhan     efisiensi  dalam penyelenggaraan kliringpun semakin meningkat. Dengan volume rata-rata harian +300.000 lembar transaksi, penggunaan warkat kredit untuk transfer dana antar bank melalui    kliring  menjadi   salah   satu issues   yang  perlu   dicermati   khususnya    terkait dengan   biaya   pencetakan   warkat   dan   prosedur   pemrosesan   warkat   itu   sendiri.   Di pihak lain, transfer kredit antar bank melalui Sistem BI-RTGS, telah dilakukan secara paperless.    Selain   itu,  keragaman      sistem  kliring   yang   digunakan     saat   ini  dan keterbatasan      cakupan    wilayah    dalam   melaksanakan      transfer   kredit  antar   bank melalui kliring masih bersifat lokal (hanya mencakup transfer antar bank yang ada di wilayah kliring setempat), sehingga transfer dana antar bank keluar wilayah kliring harus dilakukan bank sendiri melalui mekanisme yang lain. 
Dari sisi pengelolaan risiko dalam penyelenggaraan kliring yang bersifat multilateral netting,   saat   ini   belum   ada   suatu   mekanisme   untuk   mengantisipasi   kemungkinan kegagalan peserta dalam memenuhi kewajibannya pada penyelesaian akhir atas hasil kliring. Terkait   dengan   hal   tersebut,   sebagai   salah   satu   upaya   untuk   mewujudkan   sistem  Sistem  Kliring  Nasional  Bank   Indonesia   (SKNBI)   yang   dapat  mengakomodir  transfer pembayaran yang efisien, cepat, aman dan handal maka Bank Indonesia menerapkan kredit    antar   Bank    ke  seluruh    wilayah    Indonesia    tanpa   kewajiban     melakukan pertukaran  fisik   warkat   (paperless)   serta   dalam   kaitannya   untuk   mengurangi   risikoBank     Indonesia   sebagai    penyelenggara     kliring  diterapkan    mekanisme     Failure   to Settle (FtS).
Mengingat SKNBI akan menggantikan sistem kliring yang saat ini digunakan di 105 penyelenggara   kliring   di   Indonesia,   maka   penerapannya  akan   dilaksanakan   secara penyelenggara   kliring   di   Indonesia,   maka   penerapannya  akan   dilaksanakan   secarabertahap. Untuk tahap awal, SKNBI telah diterapkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2005.
TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan diterapkannya SKNBI pada penyelenggaraan kliring di Indonesia adalah untuk meningkatkan efisiensi sistem pembayaran ritel serta memenuhi prinsip-prinsip manajemen risiko dalam penyelenggaraan kliring. Adapun      manfaat    yang    diperoleh    dengan    diterapkannya      SKNBI   adalah    sebagai berikut : 

1.  Bagi Bank Indonesia 
    a.  Efisiensi waktu dan biaya, khususnya dalam hal :
1)  operasional kliring dengan ditiadakannya fisik warkat kredit;
2)  maintenance        aplikasi    kliring   dengan      digunakannya       sistem    yang terintegrasi di seluruh wilayah kliring. 

b.  Tersedianya   jangkauan   transfer   antar   bank   melalui   kliring   yang   lebih   luas dengan diakomodirnya kliring antar wilayah untuk transfer kredit.
c.  Memenuhi   prinsip-prinsip   manajemen   risiko   dalam   penyelenggaraan   kliring yang     bersifat  multilateral    netting    sesuai   dengan    Core    Principles   yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement (BIS). 

2.  Bagi Bank 
a.  Efisiensi   biaya   operasional   bank   dalam   pencetakan   dan   proses   administrasi warkat kredit.
b.  Semakin luasnya jangkauan layanan bank kepada nasabah.
PENGERTIAN 
Yang dimaksud dengan Kliring dan SKNBI adalah sebagai berikut : 
1.  Kliring   adalah   pertukaran   warkat   atau   Data   Keuangan   Elektronik   (DKE)   antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.
2.  SKNBI adalah sistem kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.
Secara umum mekanisme kliring debet adalah sebagai berikut :
1.     Sebelum kegiatan kliring debet dimulai, Bank wajib menyediakan prefund.
2.      Peserta membuat DKE debet berdasarkan warkat debet yang akan dikliringkan.
3.      Mengirimkan DKE debet dan warkat debet ke PKL. Pengiriman DKE debet dapat dilakukan secara online maupun offline tergantung  dengan  jenis   TPK yang digunakan oleh peserta.
 4.      Selanjutnya PKL akan melakukan penggabungan dan perekaman atas DKE debet yang telah lolos validasi. Sementara untuk warkat debet akan dipilah berdasarkan bank tertuju :
a.  secara  otomasi dengan menggunakan mesin reader sorter berteknologi  image, bagi PKL yang telah menerapkan sistem pilah warkat otomasi;  atau
b.  secara manual oleh masing-masing peserta di lokasi PKL, bagi PKL yang belum menerapkan sistem pilah warkat otomasi.
5.  Atas   dasar   DKE   debet   yang   diterima,   PKL   akan   melakukan   perhitungan   kliring debet.
6.  PKL mengirimkan hasil perhitungan kliring debet lokal ke SSK.
7.  Mencetak       laporan   hasil  kliring  debet    untuk    selajutnya   didistribusikan   kepada seluruh peserta bersamaan dengan warkat debet.
8.  Setelah hasil perhitungan kliring debet lokal dari seluruh penyelenggara kliring di terima oleh SSK, akan dilakukan perhitungkan kliring debet secara nasional.
9.  Selanjutnya SSK melakukan simulasi FtS.
10.Apabila hasil perhitungan kliring debet nasional,
a.   Bank   ”menang       kliring   (posisi  kredit)”,   seluruh   cash    prefund    yang    telah disediakan      dikredit    kembali    ke   rekening     giro   Bank    bersamaan      dengan pengkreditan hasil kliring yang bersangkutan.
b.   Bank  ”kalah   kliring   (posisi   debet)”,   sistem   secara   otomatis   akan   melakukan penyelesaian atas kewajiban Bank tersebut dengan urutan sebagai berikut : Pertama-tama        sistem    akan    menggunakan       cash     prefund     yang    telah disediakan Bank;
Apabila     kewajiban     Bank    masih   lebih   besar    dari cash    prefund,    maka kekurangannya akan dipenuhi dari dana yang tersedia pada rekening giro  Bank;
Apabila   kewajiban   Bank   masih   lebih   besar   dari  cash   prefund’   dan   saldo pada    rekening     giro,  maka    atas  kekurangan      saldo   rekening     giro  Ban tersebut    sistem   akan   menggunakan   Fasilitas   Likuiditas   Intrahari   Kliring (FLI-Kliring)   atau  Fasilitas   Likuiditas   Intrahari   Syariah   Kliring   (FLIS-Kliring) berdasarkan collateral prefund yang disediakan oleh Bank.
Apabila kekurangan saldo rekening giro Bank masih belum dapat ditutup dengan FLI-Kliring/FLIS-Kliring, maka kekurangan tersebut ditutup dengan surat berharga Bank yang ada pada rekening FLI-RTGS/FLIS-RTGS. Pelunasan   FLI-Kliring/FLIS-Kliring   dan   FLI-RTGS/FLIS-RTGS   harus   dilakukan sebelum tutup Sistem BI-RTGS.  Apabila     sampai    dengan    akhir   hari   FLI-Kliring/FLIS-Kliring    belum    dapat dilunasi maka akan menjadi Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) atau
Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Syariah (FPJPS).
 11. Setelah proses kliring debet selesai, peserta dapat memperolehDKE inward
dengan   cara   men-download  dari   SSK   atau   dari   KPK   melalui   media   rekam   data elektronis (disket, flashdisk, atau CD).
1.  Sebelum kegiatan kliring kredit dimulai, Bank wajib menyediakan prefund .
2.  Peserta membuat DKE kredit berdasarkan aplikasi transfer.
3.  Mengirimkan DKE kredit ke SSK. Pengiriman DKE kredit dapat dilakukan secara online maupun offline tergantung dengan jenis TPK yang digunakan oleh peserta.
4.  Untuk     peserta    yang   menggunakan        TPK  offline,   penyampaian      DKE    kredit dilakukan   dengan   menggunakan  media rekam   data   elektronis   (disket,  flashdisk atau CD) yang diserahkan ke PKL dan selanjutnya DKE tersebut oleh PKL dikirim ke SSK.
5.  SSK   akan   melakukan   penggabungan   dan   perekaman   seluruh   DKE   kredit   yang diterima.
 6.  Atas dasar  DKE kredit  yang diterima, SSK melakukan perhitungan kliring  kredit secara nasional.
7.  Selanjutnya     SSK   melakukan     simulasi  FtS.  Apabila   hasil  simulasi FtS   tersebut menunjukkan   nilai   negatif,   maka   Bank   dapat   menambahkan   kekurangan   atas prefund  sampai dengan batas waktu yang ditetapkan.
 8.  Setelah    batas  akhir   penambahan      prefund,    SSK  melakukan     perhitungan     hasil kliring  kredit   nasional.   Hasil   perhitungan  tersebut akan   dibukukan ke   rekening giro Bank di Sistem BI-RTGS.
9.  Setelah SSK selesai melakukan proses perhitungan kliring kredit secara nasional, KPK dapat men-donwload DKE inward dan laporan hasil kliring kredit dari SSK.
 10. PKL    akan    mendistribusikan     DKE  inward     dalam    bentuk    media    rekam    data elektronis    (disket, flashdisk   atau  CD)  dan   laporan   hasil  kliring   kredit   kepada peserta yang menggunakan jenis TPK offline.
11. Setelah SSK selesai melakukan proses perhitungan kliring kredit secara nasional, peserta dengan menggunakan TPK online dapat men-donwload DKE  inward dan laporan hasil kliring kredit dari SSK.



BIAYA KLIRING
Dalam penyelenggaraan SKNBI, Bank Indonesia mengenakan biaya proses kepada
peserta yang besarnya adalah sebagai berikut :
1.  Kliring Debet
 a.  Biaya    proses  kliring  debet   untuk   wilayah    kliring  yang   pemilahan    warkat         debetnya     dilakukan    secara  otomasi    sebesar   Rp1.500,00    (seribu  lima  ratu rupiah) per transaksi   dengan  rincian Rp1.000,00   (seribu rupiah)  untuk   proses  DKE   debet dan Rp500,00 (lima ratus rupiah) untuk proses warkat debet    Biaya proses kliring debet untuk wilayah kliring yang pemilahan warkat debetnya    dilakukan secara manual sebesar Rp1.000,00 per transaksi yang merupakan biaya     proses DKE Debet.
2.  Kliring Kredit   Biaya proses kliring kredit sebesar Rp1.000,00 (seribu rupiah) per transaksi.
 
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar